Laman

Kamis, 13 Juli 2017

Untukmu, yang masih belum bisa Membuka Hati

"To Mantan: Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, karena bagaimanapun Aku pernah Bahagia denganmu :)"




Membuka hati untuk orang baru setelah berpisah bukan perkara yang mudah. Lebih dalam mencintai, hal itulah yang membuat kita menghabiskan waktu untuk melupakannya. Bodoh, ikhlas bertahan dengan separuh hati yang entah separuh lainnya mungkin sudah dipasangkan ke separuh hati lainnya. Apakah hal seperti itu yang kamu inginkan? Justru tidak. Kamu hanya mencoba memperbaiki semua, tapi justru hanya menyia-nyiakan waktumu saja.

Untukmu, yang hingga hari ini belum bisa membuka hati, tak ada yang salah denganmu. Kamu berhak punya waktu untuk menikmati sepi, merayakan sepi terlebih dahulu, mencoba terbiasa menghilangkan trauma yang ada.


Halo, kamu yang masih mengingat semua hal tentangnya,

Apakah kamu masih sering mengingat adegan saat pertama kali bertemu? Obrolan yang tak jelas hingga larut malam? atau matanya saat menatap dan bibirnya saat berbicara lalu tersenyum?

Dia yang dulu kamu anggap cinta sejati dan takdir, kini pun sudah tak hadir lagi. Dengan pertimbangan yang tidak terlalu matang dia memutuskan untuk 'pergi'. Mereka bilang ini hanya perpisahan biasa. Tapi bagimu, ini bukan perpisahan melainkan siksaan. Mereka tak pernah tahu, kamu adalah manusia yang bisa Jatuh Cinta Sekali -setengah mati- lalu tak bisa lagi. Bagimu, hal ini mematikan hidupmu -siapa yang tidak hampa jika hidupnya tak ada cinta?

Jika perpisahan ini adalah mimpi buruk, kamu jelas memilih untuk tidak lagi tidur seumur hidup. Insomnia akut, atau bahkan mengikuti jejak Bella Swan jadi vampir yang bisa terjaga sepanjang waktu.

Hatimu cuma satu, perpisahan habis menggerogotinya sampai kamu tak lagi bisa meraba bentuk aslinya.


Biarkan aku menikmati hembusan angin yang menenangkan
Orang-orang di sekitar mencoba menenangkanmu dan mengatakan bahwa orang baru akan datang dan bisa membahagiakanmu sampai-sampai kamu lupa dengan rasa sakit masa lalu. Tapi Pertanyaannya adalah,
"Bagaimana jika hatimu yang sudah mati? Ruangan ludes dipenuhi cinta sebelumnya yang tak mau kembali."
Kata mereka lagi,
"Kamu harus berani. Biarkan dia mengambil hatimu dan memberi kesempatan kepada mereka. Tak ada salahnya jika kau mencobanya lagi."

Ingin rasanya kamu berteriak dan menyuruh mereka untuk diam. Mereka menasihatimu dan menyeramahimu tapi mereka tidak berfikir -bagaimana jika rasa nyeri itu terulang kembali atau malah semakin dahsyat?

Orang yang menganggapmu pengecut yang tak ingin membuka diri. Kamu yang terlihat lemah saat ini sesungguhnya adalah pribadi yang berani. Saat ini rasa sakit itu masih ada. Hanya saja kamu mencoba membuang racun sakitnya dan menyusun kembali retakan hati meskipun tidak utuh dan rentan.

Kamu lelah, tapi tidak menyerah.

Ketika belum siap, kamu tidak akan mampu menghadapi cinta baru

Sekedar dia tahu, 

Sekedar dia tahu, perasaan ini masih saja untuknya. Masih sama saat menyatakan cinta. Masih ingin dia saja selamanya. Tapi dirimu telah paham, bahwa ada kalanya, dirimu menyerahkan segalanya kepada Tuhan

Mencoba melupakan semua tentangnya. Meski kau tahu, kau telah sering mengucapkan kalimat itu. Tapi apalah daya, hatimu berbalik pendapat dan kamu terpaksa terkurung dilema. Kamu berusaha mengatakan 'tidak' tapi hatimu berkata 'iya'


Untukmu, yang memilih bertahan dalam kesepian

Bohong jika kamu tidak merasa kesepian. Di malam-malam saat kamu terjaga sendirian, kamu masih sering membayangkan saat dia berada didekatmu, menebarkan senyum yang luas dan tidak memerdulikan waktu berjalan. Tapi bagimu, sepi ini tak usah buru-buru berakhir, karena kamu tak ingin sakit kembali dan mempersiapkan diri.

Pengalaman mengajarkan, perasaan tak bisa selamanya diandalkan. Hal paling penting saat ini adalah menemukan dia yang bisa dijadikan sandaran. 

Kebersamaan tak selamanya menjamin kebahagiaan. Untukmu, rasa sepi seperti ini jauh lebih nyaman dan bisa memberikan pengharapan. Dengan atau tidak dengan pendamping, kamu tetap bisa berkembang menjadi sebaik-baik pribadi. Lewat perjalanan ini kamu sedang dididik Tuhan untuk jadi manusia yang lebih punya hati.

Jika masih ada kesempatan untuk kembali membuka hati, nanti, kamu hanya berharap kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Cukuplah sekali saja. Jika memang ada, mungkin cinta ini tak -selebih- apa yang dirasakan dulu. Tapi tetaplah berusaha dengan seikhlas hati meskipun kamu 'trauma'.




Aku bangga denganmu, Jangan biarkan dia merusak hidupmu Wahai Pemilik Hati yang Tegar :)
Sungguh, Hidupmu akan sia-sia